Minggu, 14 Juli 2019

Membangun Rumah Di Desa Atau Kota

Seorang warga didesa sanggup mempunyai rumah gratis hanya bermodalkan pisang goreng sama seteko air, dan seseorang di kota harus bekerja banting tulang, putar otak, peras keringat, untuk mempunyai rumah impian, bagaimana ini sanggup terjadi?


Seseorang warga desa yang tidak punya uang, taat beribadah serta baik sama warga sekitar tentunya berharap punya rumah sekedar untuk berlindung dikala hujan deras mengguyur serta berteduh disaat terik panas matahari memanggang ubun – ubun.


Kembali kepada pisang goreng dan teko air yang sanggup menciptakan kita mempunyai rumah, bagaimana caranya? Tanah tidak punya? materi bangunan gak ada? Jawabanya ternyata ada satu emas yang final – final ini banyak dilupakan penduduk kota, ya sebuah emas tak ternilai harganya yaitu sifat kegotong royongan warga.


Di desa istilahnya “ sambatan “ seseorang yang ingin membangun rumah tiba pada salah satu warga yang kebetulan punya tanah untuk meminta tumpangan istilahnya “ mondok “ lalu dengan bahagia hati eksklusif diberi, warga lain tidak mau ketinggalan rezeki dengan memberi sumbangan bambu, kayu serta materi bangunan lainya sehabis itu masyarakat bergotong royong membangunkan rumah yang punya hajat menyediakan makanan ringan pisang goreng sama air minum secukupnya, dan rumah pun jadi, gampang bukan. 🙂


Sebentar, Kenapa memberi dikatakan menerima rezeki, bukankankah justru kehilangan? Hal inilah yang menjadi momok warga kota yang ulet berlomba – lomba menguasai seluruh harta dengan cara yang kadang- kadang tidak mempedulikan penderitaan orang lain, tentunya akhirnya pun memuaskan alasannya ialah uang segepok sanggup diraih, tapi apa yang terjadi rezeki sesungguhnya justru hilang.


Kenapa? Dibawah ini ada bermacam – macam type rezeki yang untuk memperolehnya semua harus dipenuhi secara seimbang



  • Harta

  • Kesehatan

  • Teman yang banyak ( silaturahmi )

  • Kasih sayang sesama.

  • Dll. Yang baik – baik deh..


Pertanyaanya?



  • Bagaimana kalau punya harta melimpah tapi tidak sehat? Biaya berobat kan mahal dan hingga harta habis belum tentu sembuh itu penyakit. 🙂

  • Bagaimana kalau punya harta melimpah tapi dibenci semua orang disekitar? Yah paling – paling warga sekitar Cuma bilang, wah keren tuh rumah… wah gedenya… GILA.. nah loh.. dikatain absurd sama warga sekitar. 🙂

  • Bagaimana kalau punya rumah glamor tapi keluarga berantakan? Yah.. udah cape – cape ngumpulin harta ternyata anak gak terurus, badung dan masuk penjara, pegang jidat dah…  🙂


Disitulah tanggapan kenapa memberi justru menerima rezeki, alasannya ialah dengan memberi maka jalinan silaturahmi terbangun, disitu harta tidak diperlukan, kenapa harta tidak diperlukan. Misalkan ketika kita mau masak gak punya garam hanya bermodal bilang tetangga eksklusif diberi. Lalu warga kota gak punya air minum saja harus ke warung pakai angkutan ngeluarin harta tentunya.


Dan bagaimana dengan warga kota yang berharap rumah, mungkin eksklusif terbayang segepok uang, untuk membeli cat yang mengkilat , bergaya arsitektur terbaik, berdiri arogan disamping jalan, berpagar tinggi , ya… berhasil sih, didalam sebuah istana yang dibangun sesungguhnya sebuah penjara kandang emas yang sanggup menciptakan kita seumur hidup tidak pernah mengenal tetangga.


Begitulah Dua warga sipil desa dan kota dengan dua buah jalan berbeda dengan tujuan sama yaitu mempunyai rumah. Dan yang terbaik tentunya menggabungkan semangat kerja kota dengan kekompakan desa.


Mohon maaf kalau ada yang tersinggung, tangan yang sedang luka niscaya perih kalau disiram air yang menyegarkan, dan semoga goresan pena laksana air segar dan kita ialah tangan yang sehat pula.


tulisan ini dibentuk hanya sekedar mengingatkan arti penting silaturahmi dan semangat kegotong royongan kita.



Sumber www.ilmusipil.com


EmoticonEmoticon