Selasa, 11 Juni 2019

Epc Proyek Konstruksi

Pada struktur organisasi proyek yang biasa, kita mengenal adanya konsultan perencana, sub kontraktor, supplier dan kontraktor yang berada dibawah koordinasi owner atau pemilik proyek.. Struktur organisasi ini menempatkan owner di kawasan tertinggi dan perencana sebagai wakil dari owner di lapangan. Sementara kontraktor dan supplier berada dibawah koordinasi perencana. Keunggulan struktur ibarat ini adalah, adanya spesialisasi tugas, sehingga hasil kerja dari masing-masing pihak optimal. Namun seringkali terjadi konflik antara perencana dan kontraktor alasannya ialah kontraktor merasa desain dari perencana terlalu boros. Disaat kontraktor mengajukan revisi desain, akan sulit sekali me-lobby perencana untuk merubah desain dengan konsep yang dimiliki. Selain antra kontraktor dan supplier, sering terjadi kesalah pahaman sehingga spek barang yang disediakan tidak sesuai dengan gambar kerja, apalagi apabila terjadi revisi desain. Perselisihan ini pada karenanya akan berujung pada saling klaim dari masing-masing pihak yang tentunya merugikan pemberi kerja.


Pada struktur organisasi proyek yang biasa EPC Proyek Konstruksi


Maka muncul istilah pemborong, yaitu kontraktor yang sekaligus berperan sebagai supplier. Struktur organisasi ibarat ini lebih memudahkan koordinasi, terutama oleh konsultan perencana pada dikala terjadi perubahan desain.


Dalam perkembangan lebih jauh, muncul lagi proyek EPC (Engineering, Procurement, and Construction) yang artinya ialah si pemberi kiprah hanya menunjuk satu tubuh untuk mewujudkan keinginannya. Selanjutnya tubuh yang ditunjuk harus merencanakan sesuatu sesuai impian pemberi tugas, sehabis disetujui, dari gambar kerja yang ada dilakukanlah pengadaan barang untuk selanjutnya dilakukan proses konstruksi. Proyek-proyek ibarat ini sering disebut dengan proyek “turnkey”. Keuntungan dari proyek-proyek turnkey ialah owner tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra dalam mengkordinasi semua elemen dibawahnya. Selain itu, alasannya ialah dari proses perencanaan sampai pembangunan dilaksanakan oleh satu pihak, maka proses optimalisasi desain dapat dilakukan sepanjang proyek berlangsung dan lebih cepat dilaksanakan.


Keuntungan yang diraih pemberi kerja tentu saja hasil kerja yang kemungkinan dapat lebih cepat, minimalisasi konflik dan mengurangi resiko adanya saling lempar tanggung jawab apabila terjadi kegagalan konstruksi. Secara sederhana praktek ibarat ini sudah usang dilaksanakan oleh insinyur-insinyur yang bekerja perseorangan baik sipil maupun arsitek dalam merencanakan dan membangun rumah-rumah tinggal dimana proses perencanaan, pencarian material, dan proses konstruksi ditanggung-jawabkan kepada satu pihak. Kelemahan dari struktur ibarat ini ialah Adanya resiko kegagalan konstruksi yang lebih besar alasannya ialah biasanya kontraktor-kontraktor EPC berasal dari kontraktor maupun konsultan murni. Apabila proyek dimenangkan oleh kontraktor dengan basic konsultan, kemungkinan bangunan yang akan dibentuk boros dalam pembiayaan. Apabila dimenangkan oleh kontraktor dengan basic pelaksana, sydah niscaya harga akan efisien, namun resiko yang timbul akan lebih besar.


Namun, dari semua sistem organisasi yang ada, pemberi kerja, masih punya wewenang penuh untuk menentukan alasannya ialah masing-masing struktur organisasi proyek mempunyai sisi keunggulan masing-masing.



Sumber www.ilmusipil.com


EmoticonEmoticon