Minggu, 09 Juni 2019

Di Balik Sebuahtrotoar Jalan Raya

Di kota besar menyerupai Kota Bandung, trotoar menjadi keharusan dalam setiap pembangunan jalan. Ironisnya trotoar menjadi tidak efektif bagi kemudian lintas kendaraan lantaran pejalan kaki kesannya harus masuk ke jalan utama. Rebutan ruang antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor bukan tanpa sebab. Sebuah trotoar menjadi tempat berkumpulnya banyak sekali jenis kepentingan. Kepentingan ekonomi, kepentingan teknologi dan kepentingan lainnya.


Bayangkan, untuk kedua kepentingan saja, trotoar yang lebarnya hanya satu hingga dua meter harus memikul beban yang banyak. Banyak orang yang berkepentingan dalam satu trotoar. Berdagang misalnya, trotoar menjadi lahan yang subur bagi acara perekonomian ini. Banyak trotoar yang beralihfungsi dari ruang yang semula diperuntukan bagi pejalan kaki menjadi areal dagang. Contoh saja di pelataran Bandung Indah Plaza, Trotoar dipagar sedemikan rupa, tetapi pagar tersebut menjadi semacam etalase bagai para pedagang. Pejalan kaki kesannya menyerah tumpah ruah kejalan raya. Akibatnya Jalan Merdeka macet. Trotoar yaitu tempat yang strategis, tempat yang bisa mendatangkan hasil yang lumayan.


Selain untuk aktivitas ekonomi, trotoar juga tempat berkumpulnya kepentingan teknologi informasi. Dibawah trotoar itu jangan dianggap tidak ada aktivitas. Pada mulanya, dibawah trotoar yaitu tempat drainase jalan. To drain untuk mengeringkan, sebagai terusan air. Ya, dibawah trotoar terdapat terusan air yang mengalirkan air buangan yang jatuh kejalan. Idealnya, terusan ini diperuntukan semoga tidak terjadi genangan di tubuh jalan dikala hujan terjadi. Tetapi kondisi realnya, terusan drainase dibawah trotoar tidak bisa menampung banyak air hujan. Gorong-gorong menjadi macet, kesannya air luber kembali ke jalan. Jalanan kesannya menjadi tergenang, fenomena selanjutnya disebut banjir cileuncang.


Banjir Cileuncang yaitu bencana yang temporer tetapi dampaknya bisa permanen. Salah satu teladan kerusakan jawaban Cileuncang yaitu konstruksi jalanan yang rusak menyerupai bolong-bolong. Selebihnya jalan yang rusak lantaran cileuncang pun akan berdampak pada kemacetan lantaran pengendara kendaraan baik itu roda dua maupun roda empat akan memilih-milih jalan. Daerah yang sering langganan banjir cileuncang mencakup tempat Antara perempatan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Terusan Pasirkoja, Sukajadi, Pagarsih, Babakan Tarogong dan Jamika, sebagian tempat Cimahi pun tidak luput dari fenomena ini menyerupai Cimindi, Cijerah dan Cibabat. Di kabupaten Bandung banjir cileuncang terjadi di Jalan Raya Dayeuh Kolot.


Cileuncang yang menggenangi jalan terjadi juga lantaran besarnya air permukaan yang mengalir tidak sebanding dengan luas permukaan terusan drainase. Saluran drainase yang ada menjadi tidak optimal lantaran banyaknya sampah yang menyumbat terusan atau sedimentasi yang tidak terkendali. Disamping banyaknya kepentingan terhadap terusan drainase yang sulit terkontrol. Salah satu teladan kepentingan yang sulit terkontrol yaitu instalasi kabel optic yang dikubur sepanjang jalan sedikit banyak bisa menciptakan terusan drainase menyempit atau mengecil dari lebar sebelumnya.


Kabel optik yang menjalar sepanjang jalan ini keadaannya memang tidak bisa dikontrol lantaran tersembunyi dibawah sehingga tidak terlihat secara langsung. Untuk melihat ini, coba tengok saja dikala animo kemarau, banyak galian-galian sepanjang trotoar yang dilakukan oleh instansi terkait. Kabel yang menjalar dibawah trotoar itu tidak hanya satu, tetapi bisa puluhan dengan jarak menjalar yang tidak mengecewakan panjang, bisa jadi menghubungkan antar kota satu dengan kota lainnya. Repotnya bila terjadi kerusakan pada salahsatu jaringan kabel. Trotoar dibongkar lagi, kemudian di tutup lagi. Yang lebih repot  tentu saja jikalau animo hujan, air yang mengalir tentu dihindari masuk ke bawah trotoar, jalan satu-satunya menghindari air masuk lubang galian, dan jalan raya menjadi alternatif pelimpahan sementar air yang mengalir. Akibatnya bisa ditebak lagi, banjir cileuncang lagi.


Pengaturan dibalik banyak sekali kepentingan ini dibawah trotoar tampaknya belum ada, artinya semua jalan masing-masing saja. Kalaupun ada masih sebatas larangan berjualan di atas trotoar, itupun penegakannya belum optimal. Khusus untuk regulasi di bawah trotoar, selama tidak ada yang dirugikan, maka gali menggali akan terus dilakukan. Pejalan kaki harus sabar mendapatkan kondisi tak punya ruang untuk berjalan kaki. Pengendara harus tahu diri untuk membuatkan ruang jalan dengan pejalan kaki. Harus saling mengerti lantaran demikianlah trotoar. Trotoar tidak selebar jalan raya, kecil dan bahkan dilupakan pentingnya oleh pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor. Tetapi trotoar mempunyai tugas yang signifikan dalam memperlancar arus kemudian lintas, tampaknya regulasi wacana tugas dan fungsi trotoar harus dijalankan secara konsisten semoga kenyamanan bisa dirasakan semua pihak.



Sumber www.ilmusipil.com


EmoticonEmoticon