Sabtu, 02 Maret 2019

Bangunan Pemecah Gelombang

Salah satu aspek dari pelabuhan dan juga ilmu-ilmu aplikasi sipil laut ialah pemecah gelombang yang juga disebut sebagai breakwater. Pada pelabuhan fungsi pemecah gelombang sangat diharapkan untuk membuat bak labuh di mana kapal-kapal sanggup bersandar dengan tenang. Pada hakekatnya fungsi pemecah gelombang,sesuai namanya, memecah energi potensial gelombang air laut berkecepatan tertentu dengan kekerabatan tinggi gelombang tertentu sehingga gelombang yang ditransmisikan berenergi lemah. Kelemahan ini direkayasa dengan maksud tertentu, contohnya tadi untuk pelabuhan semoga kapal merapat dengan tenang, di sisi lain semoga gelombang tidak erosif (abrasi) kesudahannya daratan tidak “termakan” laut, atau untuk maksud tertentu menyerupai untuk wisata bahari.


Salah satu aspek dari pelabuhan dan juga ilmu bangunan pemecah gelombang


Dalam perkembangannya pembuatan dan konstruksi pemecah gelombang sanggup dibagi menjadi 3 generasi. Yang pertama ialah penumpukan batu-batu besar. Pada mulanya orang berpikiran bahwa bangunan yang sanggup menghadapi gelombang yang besar ialah bangunan yang memiliki berat yang besar. Semakin besar beratnya akan semakin berpengaruh menghadapi gempuran gelombang. Itulah sebabnya batu-batu boulder 2 Ton dihadirkan di laut untuk menghadapi energi yang besar dari gelombang laut. Kemajuan fatwa berkembang ketika didapati bahwa susunan batu-batu tersebut ambrol. Para insinyur kemudian meneliti bahwa batu-batu boulder tersebut harus memiliki keterkaitan atau interkoneksi antar unit. Seiring dengan semakin susahnya cadangan kerikil alam (boulder) atau tidak adanya cadangan di sekitar lokasi maka digagaslah bentuk-bentuk kerikil buatan (artifical stone) dengan memperbaiki nilai interkoneksinya. Pada tahap ini dimulailah generasi ke 2 namun dengan basis fatwa yang sama yaitu unit kerikil pelindung berat. Untuk memperoleh berat yang dimaksud maka dimensi kerikil besar. Contoh dari batu-batu ini ialah Dolos, tetrapod, x-block, hexablock dlsb.


 


Generasi ke dua didominasi dengan bentuk-bentuk menjari lantaran diharapkan sanggup membuat interkoneksi antar unit ketika dimasukkan ke dalam laut. Kata diharapkan sengaja digunakan lantaran untuk membuatnya demikian sangatlah sulit sesuai dengan model di laboratorium lantaran dimensi yang besar dan berat serta medan di laut. Namun demikian kalau dibandingkan dengan generasi pertama interkoneksi generasi ke dua lebih baik tetapi masih bersifat random. Random artinya pada satu pecahan interkoneksi sangat baik,di pecahan lain sedang dan di pecahan lainnya tidak baik (renggang). Nah kondisi ini sangatlah akan berakibat jelek pada jangka panjang lantaran pecahan yang berinterkoneksi jelek akan lepas mengakibatkan menurunkan pecahan yang sedang serta pecahan yang baik dan akhirnya rontok semua. Hal ini menyerupai yang terlihat pada gambar dibawah ini


Salah satu aspek dari pelabuhan dan juga ilmu bangunan pemecah gelombang


 


Ini rujukan di Port de Sein,Portugal dengan berat 110 Ton/unit sanggup terusak susunannya walaupun posisi pada permukaan (penataan pertama tertata rapi tapi ini tempat dengan gaya maksimum).


 


Generasi ke 3 dimulai dengan penelitian seorang ilmuwan dan insinyur dari UGM yaitu Ir. Wasi Tri Pramono MASc.,PhD. Pada telitiannya dia menemukan dan mengukur secara simultan (pada t yang sama) tiga gaya yang bekerja pada ketika gelombang pecah (gelombang mengenai bangunan breakwater). Dari penelitian tersebut kemudian dia di University of Windsor membuat apa yang disebut sebagai Integrated Armour System. Disebut sebagai generasi ke 3 lantaran mulai dari pendekatan problem serta bentuknya sangat jauh berbeda dengan konsep yang melatarbelakangi kedua generasi sebelumnya. Integrated Armour System atau disingkat sebagai IAS mendasarkan dari distribusi gaya pecah pada satu batuan ke batuan di belakangnya, demikian seterusnya dan seterusnya hingga gaya menghilang lantaran gaya dibelokkan oleh slope. Perambatan gaya dilakukan melalui konektor khusus yang melalukan gaya desak dan gaya tarik. Dengan prosedur kerja menyerupai ini maka tidak diharapkan batuan-batuan yang besar. Susunannya yang berpelana kuda membuat konstruksinya tahan akan goncangan gempa yang sering terjadi dan juga sangat berpengaruh menghadapi tsunami (kekuatan desak hingga 200 T ) oleh: TP Adiwijaya.



Sumber www.ilmusipil.com


EmoticonEmoticon