Kamis, 18 Oktober 2018

Prinsip-Prinsip Berguru - Berguru Dan Pembelajaran

 Belajar mempunyai prinsip atau dasar yang menjadi pokok dalam berpikir Prinsip-Prinsip Belajar - Belajar dan Pembelajaran
Belajar mempunyai prinsip atau dasar yang menjadi pokok dalam berpikir. Belajar dilakukan secara terstruktur dan teratur serta bersistem dalam pelaksanaanya. Kegiatan ini tidak pernah dibatasi oleh ruang dan waktu dan tidak akan pernah berhenti, lantaran berguru yaitu bab yang tidak terpisahkan dari perkembangan. Belajar sebagai acara sistematis dan kontinu mempunyai prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:

Belajar berlangsung seumur hidup
Belajar merupakan proses perubahan sikap penerima didik sepanjang hayat (long life education) dari mulai buaian ibu hingga menjelang masuk ke liang lahat yang berlangsung tanpa henti (never ending), harmonis dan selaras dengan periodesisasi kiprah perkembangannya (development task) penerima didik.

Proses berguru yaitu kompleks, tetapi terorganisir
Proses berguru banyak aspek yang mempengaruhinya, antara lain kualitas dan kuantitas raw input (peserta didik) dengan segala latar belakangnya, Instrumental input, dan environmental input yang kesemuanya diorganisasikan secara terpadu (integrative) dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan belajar.

Belajar berlangsung dari yang sederhana menuju yang kompleks
Proses pembelajaran diadaptasi dengan kiprah pekembangan (development task dan tingkat kematangan (maturation) penerima didik, baik secara fisik (fisically) maupun secara kejiwaan (psychological) dari mulai hahan didik yang sederhana menuju materi didik yang kompleks.

Belajar dari mulai yang faktual menuju konseptual
Proses pembelajaran merupakan proses yang sistematis dan integratif di mana penyajian materi didik diadaptasi dengan tingkat kemampuan penerima didik yang dimulai dengan materi didik yang bersifat faktual yang gampang diamati oleh panca indera menuju hahan didik yang membutuhkan imajinasi berpikir tingkat tinggi (konseptual).

Belajar mulai dari yang kongkret menuju abstrak
Proses pembelajaran berkembang sesuai dengan tingkat perkembangan penerima didik dari mulai materi didik yang gampang diamati secara nyata (kongkret) menuju proses pembelajaran yang memenlukan daya nalar yang imajinatif, proyektif, dan prospektif.

Belajar merupakan bab dari perkembangan
Proses pembelajaran menupakan mata rantai penjalanan kehidupan penerima didik. Episode perkembangan penerima didik harus diisi dengan banyak sekali pengalaman yang bermakna (meaningfull), paling fundamental (essencial), dan mendesak harus didahulukan (crucial), serasi, selaras, dan seimbang dengan tingkat perkembangan mental (mental age), dan umur kalender (cronological age) penerima didik. Keberhasilan berguru dipenganuhi oleh faktor bawaan (heredity), lingkungan (environment), kamatangan (time or maturation), serta perjuangan keras penerima didik sendiri (endeavor).

Belajan meliputi semua aspek kehidupan yarg penuh makna, dalam rangka membangun insan seutuhnya dan bulat, baik dari sisi agama, ideologi, politik, ekonorni, sosial, budaya, dan ketahanan.

Kegiatan berguru benlangsung pada setiap daerah dan waktu, baik dalam lingkungan keluarga (home schooling) sebagai pendidikan awal (tarbiyatul ula) bagi lingkungan masyarakat (non formal eduction), dan di lingkungan sekolahnya (formal education).

Belajar berlangsung dengan guru atapun tanpa guru
Proses pembelajaran di kala modern ini, guru bukan satu-satunya sumber belajan (resourches person), tetapi masih banyak sumber berguru lainnya. Misalnya, teman sebaya (peer group), perpustakaan manual, perpustakaan dunia maya (internet), dan lingkungan sekitar secara konstekstual (contextual reaching and learning).

Belajar yang berencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi.
Dalam berguru sanggup terjadi hambatan-hambatan lingkungan internal menyerupai kendala psikis dan fisik (psikosomatis), dan ekstennal, menyerupai lingkungan yang kurang mendukung, baik sosial, budaya, ekonomi, keamanan, dan sebagainya. Kegiatan berguru tententu diharapkan adanya bimbingan dari orang lain, mengingat tidak semua materi didik sanggup dipelajari sendiri. Dengan bimbingan penerima didik akan bisa berrefleksi untuk berkaca diri (self mirror, instrosfeksi); memahami diri (self understanding) mengenai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman; menenima diri (self acceptance) atau menolak diri (self rejection); mengarahkan diri (self direction); berbagi diri (self development); dan menyesuaikan dini (self adjustment)

Ansubel yang dikutip Djadjuri (1980: 9) menyatakan, ada lima prinsip utama berguru yang harus dilaksanakan, yaitu:
  1. Subsumption, yaitu proses penggabungan ilham atau pengalaman gres terhadap rujukan ide-ide yang telah kemudian yang telah dimiliki.
  2. Organizer, yaitu ilham gres yang telah dicoba digabungkan dengan rujukan ide-ide usang di atas, dicoba diintegrasikan sehingga menjadi suatu kesatuan pengalaman. Dengan prinsip ini dimaksudkan semoga pengalaman yang diperoleh itu bukan sederetan pengalaman yang satu dengan yang lainnya terlepas dan hilang kembali.
  3. Progressive Differentiation, yaitu bahwa dalam berguru suatu keseluruhan secara umum harus terlebih dahulu muncul sebelum hingga kepada suatu bab yang lebih spesifik.
  4. Conc0l1dation, yaitu sesuatu pelajaran harus terlebih dahulu dikuasai sebelum hingga ke pelajaran berikutnya, jikalau pelajaran tersebut menjadi dasar atau prasyarat untuk pelajaran berikutnya.
  5. Integrative Reconciliation, yaitu ilham atau pelajaran gres yang dipelajari itu harus dihubungkan dengan ide-ide atau pelajaran yang telah dipelajari terdahulu. Prinsip ini hampir sama dengan prinsip subsumption, hanya dalam prinsip integrative reconciliation menyangkut pelajaran yang lebih luas, umpamanya antara unit pelajaran yang satu dengan yang lainnya.


Sumber http://wimsonevel.blogspot.com


EmoticonEmoticon