Minggu, 02 September 2018

Pengakuan Dan Penghargaan Bagi Orang Dewasa: Kebudayaan Manggarai

Bagi keluarga orang Manggarai (terutama masyarakat pedesaan yang masih sangat kental dengan budaya-budaya leluhur mereka), melepaskan anak perempuan untuk menikah bukanlah hal yang dilakukan asal-asalan. Sebab, ini berkaitan dengan harkat dan martabat keluarga. Dikatakan demikian, lantaran anak perempuan yang dilepas akan menyatu dengan pihak keluarga laki-laki. Keluarga akan aib kalau anak perempuan mereka tidak sanggup bekerja, apalagi melaksanakan hal-hal/pekerjaan yang sangat mendasar dengan kehidupan perempuan.

Selain beberapa hal di atas, dalam kebudayaan Manggarai, perempuan merupakan ‘orang luar’ (ata pe’ang). Istilah ‘orang luar’ dimaknai sebagai pihak yang kawin-keluar dan menyatu dengan keluarga pria (mertua). Meskipun pada beberapa kasus, perempuan diperbolehkan tinggal bersama dan/atau akrab dengan keluarganya atas dasar beberapa pertimbangan, diantaranya cita-cita orang tua, perempuan tersebut tunggal (anak semata wayang), dan/atau menantu (laki-laki) diminta mengurusi dan membantu mertuanya. Orang-orang menyerupai ini dilabeli sebagai ata kaeng one (orang yang tinggal di dalam) lingkungan keluarga, sebagaimana hak yang diberikan pada laki-laki.

Pengakuan dan Penghargaan bagi Perempuan
Sebagai ata pe’ang (orang luar), perempuan Manggarai harus mempunyai beberapa kemampuan berikut ini.

Kemampuan Menenun Lipa
Menenun lipa merupakan hal dasar yang dituntut bagi perempuan Manggarai. Lipa yakni sebutan untuk kain yang terdiri atas dua bentuk, yakni lipa songke dan lipa surak. Lipa songke merupakan kain yang ditenun dan disisipi motif dari benang sulam berwarna (bukan hitam), sedangkan lipa surak yakni kain yang ditenun dan tidak bermotif. Lipa surak biasanya menggunakan benang berwarna (merah, kuning, biru, dan warna-warna terperinci lainnya), tidak menggunakan warna hitam. Lipa songke menggunakan benang berwarna hitam sebagai warna dasar dan benang-benang berwarna dijadikan sebagai sulam atau motif. Benang yang digunakan sebagai materi baku merupakan benang yang mempunyai tekstur lebih berpengaruh dari benang sulam. Kedua kain ini lazimnya ditenun oleh kaum hawa yang sudah remaja (hendak menikah) dan/atau sudah menikah. Bagi perempuan yang hendak menikah, kemampuan untuk menenun songke merupakan sebuah kewajiban, bahkan dituntut. Jika hal ini tidak dipenuhi, pihak keluarga belum sanggup mengatakan izin bagi sang perempuan untuk menikah.

Beberapa kriteria songke yang dihasilkan supaya menerima legalisasi dan layak untuk berumah tangga, diantaranya 1) kepingan pinggir atau sisi paling luar songke harus lurus. Bagi penenun pemula, menghasilkan songke yang rapi pada kepingan pinggir atau sisi paling luar barangkali hampir mustahil. Hal ini disebabkan oleh tangan yang masih berat untuk mengakat dan memindahkan alat-alat yang digunakan dalam penenunan songke. Semakin lincah seseorang, semakin manis pula pinggiran/tepian songke. 2) kemampuan menganyam motif. Songke syarat dengan motif. Semakin banyak dan sulit motif yang digunakan, semakin mahal pula nilai songke. Bagi penenun pemula, sebelum diajarkan untuk menenun songke, terlebih dahulu ia menenun surak, selain lantaran mudah, juga lantaran tidak menggunakan motif.

Kemampuan Memasak
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, memasak barangkali merupakan kegiatan yang sudah biasa dilakukan, baik oleh pria maupun perempuan. Bahkan, begitu banyak orang yang berguru memasak menu-menu kuliner dari tempat maupun mancanegara dengan banyak sekali macam tujuan, contohnya untuk perlombaan dan barangkali lantaran sekadar hobi.

Kontrasnya, perempuan dalam kebudayaan Manggarai menganggap memasak meruapakan salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum dirinya tetapkan menikah. Sifatnya memaksa sehingga menjadi suatu keharusan bagi perempuan. Memasak merupakan kegiatan mengabdi pada keluarga, baik orang tuanya sendiri, mertua, maupun tamu dari luar. Barangkali, hal tersebut yang membedakan masyarakat Manggarai dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, bahwa tuntutan terhadap seorang perempuan supaya bisa memasak justru sebelum beliau ingin berumah tangga. Jika kita bandingkan dengan kehidupan para aktris, misalnya, kemampuan memasak bukanlah sebuah tuntutan dan bahkan sang perempuan bisa berguru memasak justru sehabis berumah tangga.

Seorang perempuan tidak diizinkan untuk menikah sebelum beliau paham cara memasak. Memasak yang dimaksud di sini bukanlah memasak untuk tujuan kompetisi, untuk dinilai para juri, melainkan untuk mempertahankan hidup dan kehidupan berumah tangga. Di sisi hal ini, masakannya pun berbau ciri khas tempat dan sangat bersyukur bila ia paham sajian kuliner luar. Penilaiannya pada cara menyajikan makanan, bentuk nasi/sayur yang dihasilkan, dan tentu saja rasanya.

Pengakuan dan Penghargaan bagi Lelaki
Laki-laki merupakan tulang punggung dalam keluarga dikala beliau berumah tangga. Oleh lantaran itu, seorang pria selain dituntut untuk membina rumah tangga, ia juga harus bisa membekali dirinya ihwal cara bertahan hidup dalam kehidupan rumah tangganya nanti. Pada pembahasan terdahulu, telah disinggung mengenai perbedaan perlakuan terhadap anak pria dan perempuan dalam kebudayaan Manggarai. Laki-laki diperlakukan sebagi ‘orang dalam’ (ata one) yang dipahami seagai pihak yang diberi kekuasaan untuk mendapatkan harta warisan orang bau tanah (tanah, binatang peliharaan, dan/atau rumah) serta tinggal dan mendirikan rumah di tanah yang diberikan oleh orang tua). Jadi, hanya pria yang diberikan hak warisan, sedangkan perempuan tidak.

Kemampuan Berkebun
Berkebun merupakan bentuk mata pencaharian bagi masyarakat Manggarai pada umumnya, terutama masyarakat pedesaan secara khusus. Berkebun merupakan kegiatan yang dilakukan secara bertahap, diantaranya membuka lahan, menanam, memelihara, dan memanen. Kemampuan berkebun merupakan tuntutan bagi pria Manggarai sebelum membina rumah tangga. Tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang pria Manggarai sebelum menentukan untuk membentuk rumah tangga, diantaranya 1) membuka kebun. Membuka kebun untuk bercocok tanam harus dikuasai baik oleh laki-laki. Umumnya, lahan perkebunan orang Manggarai merupakan hutan yang gres dibuka lantaran sistem perkebunan yang berpindah-pindah. Oleh lantaran itu, hutan harus ditebang terlebih dahulu. Beberapa ukuran yang dijadikan standar kelayakan seorang anak aki-laki untuk bisa membina rumah tangga, yakni cara memegang parang, cara memotong kayu, kecepatan menuntaskan pembukaan lahan, kebersihan lahan yang dibuka, lokasi pembangunan pondok yang strategis untuk melindungi seluruh kepingan kebun, dan keberanian untuk menjaga kebun sendirian. Selain itu, hasil yang diperoleh dari kebun dikala pemanenan menjadi ukuran tersendiri. Jika ia bisa mengalahkan orang banyak, hasil jagung, padi, dan tumbuhan lainnya di dalam satu kampung, maka ialah raja kebun pada masa itu. Tentu saja sebagai pemenang, ia akan dipuji oleh banyak orang dan menjadi panutan bagi orang lain. Jika hal-hal tersebut bisa dilakukan oleh seorang laki-laki, orang bau tanah tidak aan mewaspadai lagi sang anak lantaran dengan hasil kebun tersebut, ia bisa menghidupi dirinya sendiri atau keluarganya. Oleh lantaran itu, kiprah orang bau tanah ialah menunjukkan si anak pilihan untuk menikah. Lazimnya, dijodohkan dengan sistem tungku, suatu sistem yang digunakan oleh kebudayaan Manggarai supaya keturunan dari keluarga itu sanggup bertambah atau berkembang. Dengan perkataan lain, silsilah keluarga itu tidak mati.

Kemampuan Berbicara: Memimpin
Kemampuan Berbicara pada lingkungan keluarga merupakan ukuran yang sanggup digunakan dikala seorang anak berinteraksi dengan dunia luar. Sejauh mana seorang sanggup mengunakan kemampuann berbicara untuk mempengaruhi orang lain merupakan standar evaluasi tersendiri bagi seseorang tersebut untuk sanggup memimpin. Zaman dahulu, perkelahian untuk memperebutkan tanah sampai ke tingkat desa merupakan duduk kasus umum yang terjadi bagi masyarakat Manggarai. Untuk menuntaskan sengketa, diharapkan sosok orang yang mampu/lihai dalam bermain kata-kata. Dari kejadian tersebut, lahirlah sebuah pemeo kala ata kala tombo dalam kehidupan masyarakat Manggarai. Pemeo tersebut kalau diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih akan berbunyi kalah yang kalah bicara. Ketika seseorang atau sekelompok orang mengeluarkan atau mengucapkan pameo tersebut, mereka sudah dibekali dengan sesajian (biasanya untuk menjaga diri) berupa air, akar kayu, atau kepingan badan tumbuhan yang sudah didoakan secara tradisional.

Kelihaiann seorang anak remaja dalam berbicara menjadi ukuran bagi para orang bau tanah untuk sanggup membina rumah tangga. Bahkan lebih dari itu, ia mempunyai peluang untuk dipilih atau dijadikan pemimpin dalam satu kampung, bau tanah watak misalnya.


==========
Author:
ariesrutung95
Sumber http://ariesrutung.blogspot.com


EmoticonEmoticon